Selasa, 25 September 2012

Analisis Puisi "DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I" dan "DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II" karya Jamal D Rahman

“DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I”
DAN “DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II”: SIMBOL KESETIAAN TERHADAP TUHAN

oleh Fita Mulyani
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FBS Universitas Negeri Yogyakarta

Abstrak
Jamal D Rahman mengungkapkan keindahan puisinya dengan menjaring simbol-simbol tertentu sehingga membentuk makna. Dalam mengkaji puisinya pun, pembaca perlu menggunakan cara yang sama, yaitu sistem tanda. Analisis puisi DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I dan DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II karya Jamal D Rahman diharapkan dapat membedah makna kesetiaan terhadap Tuhan melalui tanda simbolik yang terkandung dalam puisi itu sendiri. Berbagai ilmu atau pengetahuan tentang tanda akan menumbuhkan kesadaran, pemahaman, interpretasi, dan reproduksi tanda.
Dalam tingkat kesadaran, analisis puisi DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I dan DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II, dapat membangun kesadaran tentang tanda. Lebih dalam lagi, pembaca dapat menyadari bahwa dirinya berperan sebagai makhluk yang hidup dari, oleh, dan untuk “Tanda”. Harus ada kesadaran bahwa tanda ada di mana-mana dan mengepung kehidupan. Apabila kesadaran ini telah tumbuh, maka diharapkan mau dan mampu memahami tentang bagaimana tanda itu tumbuh dan berkembang di setiap ruang dan waktu.

Kata kunci: puisi, waktu, simbol, kesetiaan

A.    Pendahuluan
Puisi merupakan perpaduan dua hal yang mempesona, yaitu keindahan bahasa dan kedalaman makna. Lewat puisi kita bisa menikmati salah satu kekuatan bahasa, yaitu nuansa estetis yang mungkin mengharu-biru perasaan dan hati kita. Puisi adalah pesona makna, yaitu suasana, perasaan dan bahkan pikiran. Ekspresi makna yang terkandung dalam puisi sering kali tak kalah mempesonanya dibanding bahasa. Dilihat dari sudut puisi sebagai karya sastra, keindahan bahasa dan kedalaman makna menjadi hal yang sangat penting.
Puisi Jamal D Rahman yang akan dikaji berjudul DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I dan DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II (selanjutnya disingkat DWDA I dan DWDA II). Tema yang sangat menonjol dalam kedua puisi ini adalah tema religius. Keduanya sama-sama mengadakan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Imajinasinya terasa hidup dengan bahasa puisinya yang mempesona. Pilihan bahasa yang dipakai dalam puisi-puisi Jamal D Rahman cenderung menggunakan gaya bahasa yang simbolik. Jika ingin mengkaji makna kesetiaan dalam puisi tersebut, maka untuk membedahnya harus menggunakan pendekatan yang tepat, yaitu pendekatan semiotik.
Dalam puisi DWDA I dan DWDA II, Jamal D Rahman banyak menggunakan makna-makna simbolik yang apabila dikaji, akan membentuk bahasa dan makna yang mempesona tanpa terlepas dari temanya sendiri, yaitu religius. Puisi ini dapat dikatakan tariqoh dalam menjabarkan luapan batin seseorang kepada dirinya sendiri, ataupun seorang hamba kepada Tuhan yang telah diyakininya. Melalui puisi ini, Jamal D. Rahman datang dengan wajah yang penuh renungan, penuh dengan fatwa yang cukup tegas. Puisi ini lahir dari kegelisahan seorang Jamal D Rahman dalam menyaksikan kenyataan hidup. Jamal mencoba keluar dari kehidupan yang penuh kegelisahan menuju kehidupan yang penuh kebahagiaan, kehidupan sebagai makna hidup yang sebenarnya. Semua cara ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Analisis terhadap sajak-sajak puisi DWDA I dan DWDA II karya Jamal D Rahman diharapkan dapat membedah makna dan tanda simbolik yang terkandung dalam puisi itu sendiri. Berbagai ilmu atau pengetahuan tentang tanda akan menumbuhkan kesadaran, pemahaman, interpretasi, dan reproduksi tanda.
Pada tingkat kesadaran, diharapkan melalui analisis puisi DWDA I dan DWDA II menggunakan pendekatan semiotik, dapat memiliki kesadaran tentang tanda atau menyadari dirinya sebagai makhluk yang hidup dari, oleh, dan untuk “tanda”. Harus ada kesadaran bahwa tanda ada di mana-mana dan mengepung kehidupan. Apabila kesadaran ini telah tumbuh, maka diharapkan mau dan mampu memahami tentang bagaimana tanda itu tumbuh dan berkembang di setiap ruang dan waktu. Pada tahap selanjutnya, melalui penelitian ini, diharapkan mampu menginterpretasi dan mereproduksi tanda agar tanda-tanda itu menjadi bermanfaat untuk peningkatan kualitas kehidupan manusia. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
            Kajian sastra merupakan proses atau perbuatan mengkaji, menyelidiki, dan menelaah objek material yang bernama sastra. Menurut Abrams (via Wiyatmi, 2008), pendekatan terhadap karya sastra terdiri dari empat pendekatan, yaitu pendekatan mimetik, ekspresif, pragmatik, dan objektif. Kemudian, keempat pendekatan tersebut berkembang hingga muncul beberapa pendekatan. Di antara empat pendekatan tersebut, salah satunya adalah pendekatan “semiotik” yang nantinya akan digunakan dalam penelitian ini.
Pengertian semiotik diartikan sebagai ilmu tanda, yang memandang fenomena sosial dan budaya sebagai sistem tanda (Preminger via Wiyatmi, 2008). Dengan demikian, pendekatan semiotik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sistem tanda (Wiyatmi, 2008: 92). Term pseudo-scientific dipergunakan sebagai sebuah kompromi pandangan antara kubu yang menyatakan bahwa semiotik merupakan sebuah ilmu sebagaimana dikonstruk oleh Ferdinand de Saussure, sebagian lagi menyebutkan bahwa semiotik hanya merupakan sudut pandang, metode analisis, atau pendekatan. Dalam makalah ini, semiotik ditempatkan sebagai semacam ilmu yang berisi objek kajian, metode, pendekatan, teknik analisis dan interpretasi makna dan apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia. Selain itu, dalam kehidupan sehari-harinya, manusia juga sering berada dalam proses semiosis, yaitu memahami sesuatu yang ada di sekitarnya sebagai sistem tanda.
Saint Agustinus menyatakan bahwa segala sesuatu dapat menjadi tanda selama dapat membawa sebuah makna tertentu. Satu-satunya yang tidak dapat menjadi tanda adalah Tuhan itu sendiri. Tuhan justru memberi warna pada setiap petanda akhir (ultimate signified). Ia melihat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara setiap tanda yang digunakan manusia dalam proses komunikasi, dan sumber-sumber kekuasaan Tuhan yang memberi pondasi jaminan makna akhir pada setiap tanda tersebut. St. Agustinus mengatakan bahwa ada tanda dan makna yang lebih dalam lagi, yaitu petanda dan makna-makna yang berkaitan dengan tanda-tanda ketuhanan (divine signs).
North menyebutkan empat tradisi yang melatarbelakangi kelahiran semiotika, yaitu semantik, logika, retorika, dan hermeneutika. Culler menyebutkan strukturalisme dan semiotik sebagai dua teori yang identik. Strukturalisme memusatkan perhatian pada karya sedangkan semiotika pada tanda. Sejalan dengan Culler, Selden menganggap strukturalisme dan semiotik termasuk ke dalam bidang ilmu yang sama, sehingga keduanya dapat dioperasikan secara bersama-sama. Untuk menemukan makna suatu karya, analisis strukturalisme mesti dilanjutkan dengan analisis semiotika. Demikian juga sebaliknya, dengan menggunakan analisis semiotika, dapat diartikan sudah melakukan analisis strukturalisme. Semata-mata dalam hubungan ini, yaitu sebagai proses dan cara kerja analisis keduanya seolah-olah tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, disamping menggunakan teori semiotik, penelitian ini juga dibantu oleh teori struktural yang merupakan konsep pemikiran I.A. Richards (1976). Dia menyebut struktur sajak sebagai hakikat sajak yang meliputi tema (sense), perasaan (feeling), nada dan suasana (tone), dan amanat (intention).
Tahap pertama memahami puisi secara semiotik adalah dengan menentukan arti (meaning) unsur-unsurnya, yaitu kata-katanya secara referensial, menurut kemampuan bahasanya yang mendasarkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi tentang gejala luar fungsi mimetiknya. Tahap ini oleh Riffatere disebut tahap heuristik. Setelah itu, pembacaan dan pemaknaan harus ditingkatkan pada tahap semiotik yatu dengan membongkar kode-kode sastra secara struktural, atas dasar significance (makna); penyimpangan dari kode bahasa, dari makna biasa, oleh Riffatere disebut ungrammaticalities dengan latar belakang keseluruhan karya yang disimpanginya (intertekstualitasnya dengan karya-karya sebelumnya). Tahap kedua ini yang disebut sebagai tahap pemaknaan secara semiotik atau hermeneutik.

B.     Pembahasan

1.       DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I dalam Kajian Semiotik
DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I
dekaplah waktu, dekaplah sajak di sela tangisku yang runtuh langit,
tak habis memburu gemuruhmu.
aku memanjati detik-detik leherku sendiri,
menggapai kekosongan gelisahku yang memar di kelu batu
lidahku. sudah kuperas darahku sendiri, mencari sari bunga rumahmu.
tapi darahku pecah, memerah
sendiri tanpa urat tanganku.
dekaplah waktu, dekaplah aku agar kukumu tak lepas dari jemariku.

aku paku tulang-tulangku di pintumu,
untuk mendengar ketukan-ketukanku sendiri. tapi setiap kali
kupaku tulang-tulangku, yang menetes di pintumu hanyalah darah puisiku ….
maka, dekaplah waktu,
dekaplah aku, sebab di pintumu aku takkan berhenti mengaji alif-alif ketukan itu ….

1.1   Struktur Tekstual DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I
a.       Tema
Puisi DWDA I dibangun melalui suasana religius yang mengajak pembacanya menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Oleh karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan. Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah “pengembaraan di negeri asing”. Selain itu, pembaca seolah diajak untuk ikut belajar, kemudian mengerti lantas memahami arti kehidupan yang sebenarnya.
b.      Perasaan
Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Dalam puisi DWDA I, gambaran perasaan penyair adalah perasaan terharu dan harapan dari sebuah doa. Perasaan tersebut tergambar dari diksi-diksi yang digunakan. Setiap penyair akan memilih kata-kata yang tepat, sesuai dengan maksud yang ingin diungkapkan dan efek puitis yang ingin dicapai. Diksi seringkali juga menjadi ciri khas seorang penyair. Dalam puisi DWDA I, Jamal D Rahman banyak memilih penggunaan bahasa kias yang menyatakan makna dari simbol-simbol tertentu. Sudah tentu bahwa diksi yang dipakai jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari. Seperti, dekaplah waktu, runtuh langit, memanjat detik-detik, batu lidahku, dan lain-lain. Selain itu, pemilihan bahasa yang menonjol dalam puisi ini adalah Jamal D Rahman banyak menggunakan istilah-istilah dalam biologi yaitu organ-organ tubuh manusia untuk mewujudkan makna dan membangun perasaannya.
c.       Nada dan Suasana
Suasana yang terbangun dalam puisi ini jika diamati dari awal sampai akhir, cenderung menggambarkan suasana hati seseorang yang berada dalam suasana gelisah dan ingin menggapai apa yang diinginkannya. Di samping itu, nada yang terbentuk juga menggambarkan adanya harapan melalui sebuah doa dalam suasana yang hening dan mencapai pada tingkat kekhusyukan tertentu.
d.      Amanat
Berdasarkan temanya, puisi ini bertemakan ketuhanan, yang isinya seolah-olah mengajak pembacanya menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan. Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah “pengembaraan di negeri asing”.

1.2   Puisi DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU I dalam Kajian Semiotik
Jika diartikan, puisi DWDA I karya Jamal D. Rahman bermakna bahwa penyair dengan keteguhan hatinya, walaupun terasa sakit, tetapi berusaha mencari tentang arti sebuah kehidupan melalui jalan dan petunjuk yang sejatinya adalah milik Tuhan. Pada bait pertama baris pertama, kalimat “dekaplah aku” yang juga digunakan penyair sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi seorang penyair dengan Sang Pencipta. Dalam baris ini, penyair juga menggunakan ikon “waktu”. Waktu merupakan sebuah simbol. Waktu adalah sesuatu yang tak akan pernah kembali. Dalam dimensi waktu manusia hidup. Sejak ia dilahirkan, kemudian menjalani kehidupan, hingga akhirnya menjemput kematian. Dalam puisi ini, waktu menjadi sebuah renungan, renungan dalam sajak. Sajak milik Sang Pencipta, yaitu tuntunan hidup yang tertuang dalam kitab.
Waktu akan terus berjalan, walaupun ada yang menangis bersujud memintanya berhenti. Seperti yang diungkapkan penyair dalam sajak  /dekaplah waktu, dekaplah sajak di sela tangisku yang runtuh langit/ tak habis memburu gemuruhmu//. Akan tetapi, ia tak akan berhenti tanpa seijin Sang Hyang Wenang, yaitu Sang Pencipta kehidupan. Penyair “memanjati detik-detik leherku sendiri”. Kata “memanjat” bermakna konotasi, yang berarti menjalani. Ikon “detik-detik leherku” merupakan sebuah simbol. Di mana leher adalah tempat letaknya urat nadi, yang merupakan simbol kehidupan. Jika diartikan, akan diperoleh makna bahwa penyair memaknai waktu sebagai unsur kehidupan yang penting, di mana di dalamnya manusia lahir, hidup, kemudian mati.
Pada baris selanjutnya, penyair mencari jawaban atas segala keresahan tentang penerangan yang ingin diperolehnya, tentang kebahagiaan yang hendak didekapnya. Terbukti dengan sajak, /menggapai kekosongan gelisahku yang memar di kelu batu lidahku//. Segala upaya dilakukan penyair untuk dapat menggapai keinginannya. Betapa sulit jalan untuk mencapai tujuannya itu. Akan tetapi, penyair dengan segala kesungguhannya dan segala daya yang ada padanya, ia curahkan demi tercapainya tujuan tersebut. Tujuan yang tanpa kuasa Tuhan, tak akan bisa ia dapat. Kesungguhan penyair dapat dilihat dalam sajak, /sudah kuperas darahku sendiri, mencari sari bunga rumahmu//. Dalam sajak ini, penyair menggunakan ikon “darah”, menunjukkan bahwa pengorbanan yang dilakukan penyair amat sungguh-sungguh, hingga menyangkut hal yang paling primer dalam kehidupan, yaitu darah. Karena darah merupakan sebuah simbol, sebagai tanda adanya kehidupan. Selain itu, darah juga merupakan simbol keresahan. Ini menunjukkan pada kondisi, ada keresahan tersembunyi dalam diri penyair. Kata “darahku” menandakan keresahan diri penyair, sedang ikon “sari bunga rumahmu” merupakan tujuan yang ingin dicapai penyair. Pronomina “–mu” dalam kata rumahmu menunjukkan bahwa tujuan yang ingin dicapai penyair tersebut adalah dengan kuasa Tuhannya.
Namun, selanjutnya penyair menemukan suatu rintangan. Ia ada pada keadaan di mana seseorang telah keluar dari jalan menuju tujuannya. Dilukiskan dalam sajak, /tapi darahku pecah, memerah sendiri tanpa urat tanganku//. Darah yang pecah dan memerah tanpa urat tangan, secara biologis, diartikan keadaan darah di mana ia telah keluar dari jalur urat nadinya karena suatu sebab, seperti terluka. Bisa dibayangkan betapa sakitnya dan betapa tidak mudahnya.  Lantas kemudian, penyair bertawakal. Menyerahkan hasil akhir yang akan diperoleh atas usahanya kepada Yang Memberi Kuasa. Kemudian, melalui sajak, /dekaplah waktu, dekaplah aku agar kukumu tak lepas dari jemariku//, penyair memohon lindungan kepada Tuhannya. Ikon “kukumu” diartikan sebagai simbol yang berarti petunjuk Tuhan. 
Pada bait kedua baris pertama, berbunyi sajak, /aku paku tulang-tulangku di pintumu/. “Paku” menandakan sebuah simbol pemersatu. Ikon “tulang-tulangku” memiliki arti sebagai penegak dan alat gerak manusia. Manusia tanpa tulang tidak akan dapat tegak dan bergerak. Kata “pintumu” juga bermakna konotasi yang berarti jalan, petunjuk atau pedoman yang diberikan Tuhan kepada manusia. “aku paku tulang-tulangku di pintumu” berarti penyair melakukan pengabdian kepada Tuhannya melalui jalan dan pedoman yang telah ditunjukkan Tuhan. Dalam hal ini diartikan sebagai “kitab tuntunan”. Jika dalam Islam disebut Al-Quran. Pengabdian yang dimaksud adalah mempelajari atau mengaji Al-Quran. Akan tetapi, setiap kali ia mengaji, yang menetes justru adalah “darah puisinya”. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa darah merupakan simbol kegelisahan. Semakin penyair tahu tentang makna dan kebenaran Al-Quran, semakin penyair merasa takut dan gelisah. Ia mencemaskan sisa waktunya.
Maka, pada baris 12 dan 13 penyair berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa dalam sajaknya, /maka, dekaplah waktu/ dekaplah aku, sebab di pintumu aku takkan berhenti mengaji alif-alif ketukan itu ….//. Penyair berdoa untuk senantiasa diberi lindungan, waktu, dan petunjuk jalan yang benar agar dapat memaknai hidup secara benar. Karena kehidupan akan terus berjalan beriringan dengan sang waktu. Kapan berawal, kapan berakhir, kapan hidup, kapan mati, hanya Tuhan yang tahu. Waktu tetap sebuah misteri rahasia Tuhan.

2.      Puisi DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II dalam Kajian Semiotik
DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II
bacalah aku. bacalah aku dengan ayat-ayat yang terus mengeja gerimis dalam hujan.
tak tamat-tamat mengaji panggilan air di hujan-hujan azanku.
di ruas jemariku ayat-ayatmu tumbuh jadi bunga.
basah ungu. basah ungu.
maka biarlah ia melayari gerimis tulang-tulangku, menggali-gali hujan nadiku,
hingga sumsum menyabda pada sajak-sajakku.

aku baca ungu suaraku di tulang-tulangku sendiri, tempat darahku akan mengering.
dagingku akan mengering. tapi yang terbaca dari suaraku hanya ungu matamu,
tak henti-henti mengedipkan bunga
pada bugenfil yang membuat tanganku pun menjadi ungu, seungu suaraku, seungu matamu.

di persimpangan tanganmu, puisiku akan membeku. akan membeku.
seperti daun pintu memadatkan
 sunyi dalam deru hujan. dan di antara deru hujan pada tulang-tulangku,
masih tercium juga bau garam
 yang mengeras dari lautan airmataku.
maka dengarlah bisik doaku pada daun jendelamu, yang selalu
kuketuk dengan tulang-tulang tangisku.

2.1             Struktur Tekstual DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II
a.       Tema
Puisi DWDA II pada dasarnya memiliki tema yang sama dengan puisi DWDA I, yaitu bertemakan ketuhanan. Namun, dalam puisi yang kedua, Jamal D Rahman lebih mempertegas makna religiusnya. Ini bukan dikarenakan jumlah bait ataupun barisnya yang lebih banyak dari pada puisi yang pertama. Kedua puisi tersebut sama-sama mengungkapkan dialog hamba dengan Tuhannya. Dalam puisi kedua tema puisi tersebut lebih diperjelas lagi melalui bait terakhir baris ke-enam dan ke-tujuh, //maka dengarlah bisik doaku pada daun jendelamu, yang selalu// kuketuk dengan tulang-tulang tangisku//. Sajak “dengarlah bisik doaku” semakin memperjelas bahwa puisi tersebut mengungkapkan komunikasi penyair dengan Tuhannya melalui doa.
b.      Perasaan
Seperti pada puisi pertama, dalam puisi DWDA II suasana hati penyair adalah rindu (terhadap Tuhannya) dan terharu.
c.       Nada dan Suasana
Suasana yang terbentuk dalam puisi tersebut, sejak awal menggambarkan suasana yang sedih dan haru. Dilukiskan dengan digunakannya kata “gerimis” pada baris pertama yang merupakan sebuah tanda adanya kesedihan. Suasana dominan yang terbentuk selanjutnya dalam puisi tersebut adalah suasana sunyi. Terbukti dalam sajak, //sunyi dalam deru hujan// pada bait terakhir, menggambarkan suasana yang sunyi dalam hati penyair. Nada yang diungkapkan penyair penuh dengan harapan, rendah hati (nada seorang hamba terhadap Tuhannya), dan belas kasihan. Nada tersebut diungkapkan melalui sebuah doa yang diselubungi rasa pengabdian yang tinggi terhadap Tuhannya.

d.      Amanat
Kita harus senantiasa bersyukur atas anugerah yang dilimpahkan Tuhan terhadap kita. Anugerah itu dapat berwujud nikmat secara langsung, maupun berwujud tanda. Seperti halnya ayat atau tanda dari Allah tidak hanya berupa kata-kata dalam Al-Quran. Allah juga mengajari kita dengan tanda-tanda lain, yaitu ayat-ayat kauniah seperti pohon, sungai, udara, dan ciptaan Allah yang lain, bahkan dalam diri kita pun terdapat tanda yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Pengasih.


2.2  Puisi DEKAPLAH WAKTU, DEKAPLAH AKU II dalam Kajian Semiotik
Puisi yang ke-dua ini bertema umum kesetiaan terhadap Tuhan, serta bertema khusus tentang ungkapan rasa syukur penyair kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segala anugerah dalam kehidupannya. Pada bait pertama diawali dengan sajak, //bacalah aku/. Kata “aku” di sini adalah sebagai subjek, yaitu si penyair itu sendiri. Kata “bacalah” bermakna konotatif, yaitu dapat diartikan pahami atau maknai. /bacalah aku dengan ayat-ayat yang terus mengeja gerimis dalam hujan//. “Gerimis” sering dipakai untuk melukiskan suasana sedih atau murung. “Hujan” sering diartikan sebagai anugerah. “Ayat-ayat” di sini dimungkinkan memiliki makna denotatif, yaitu makna sebenarnya. Jika dimaknai, ini menandakan suasana hati penyair yang sedih dan terharu dalam limpahan anugerah Tuhan. Maka, “bacalah aku dengan ayat-ayat”, yaitu dengan penuh rasa syukur seperti yang dimaknai dalam ayat-ayat (Al-Quran).
Sajak pada baris selanjutnya berbunyi, //tak tamat-tamat mengaji panggilan air di hujan-hujan azanku//. Kata “azan” sendiri mempunyai makna sebuah panggilan. Sebuah panggilan yang ditujukan kepada umat muslim. Azan dalam sajak tersebut dimaknai seperti panggilan air dalam hujan. Begitu deras, dan penuh anugerah pada siapapun yang menerimanya. “tak tamat-tamat mengaji”, menandakan ada hal yang terus-menerus dan tanpa akhir. Dalam sajak ini, hal yang dimaksudkan adalah “mengaji”, yaitu belajar tentang kebenaran melalui jalan Tuhan.
Baris selanjutnya, //di ruas jemariku ayat-ayatmu tumbuh jadi bunga//. Sajak “di ruas jemariku” melukiskan tindakan yang dilakukan penyair, dimaknai seperti “menuding” ayat-ayat Tuhan (mengaji). Dalam sajak ini juga terdapat ikon “bunga”. Bunga merupakan sebuah simbol keindahan. Jadi, dapat diartikan bahwa penyair mengaji ayat-ayat Tuhan dan menemukan keindahan tersendiri dari makna ayat-ayat yang ia pelajari tersebut. //basah ungu. Basah ungu//. “basah” mempunyai makna dingin, damai dan abadi. Ikon warna “ungu” merupakan sebuah simbol. Warna ungu sendiri memiliki arti yang  menunjukkan pengaruh, kekuatan spiritual, pengetahuan yang tersembunyi, misteri, pencerahan, kepercayaan yang dalam dan magis atau keajaiban. Jika diartikan menghasilkan makna adanya kekuatan spiritual yang membawa kedamaian pada si penyair.
Kemudian, /maka biarlah ia melayari gerimis tulang-tulangku, menggali-gali hujan nadiku/. Pronomina “ia” berkaitan dengan makna pada baris sebelumnya, yaitu kekuatan spiritual yang dimaksud penyair. Penyair membiarkan kedamaian tersebut melayari segenap kesedihan (yang diungkap melalui kata “gerimis”) dalam ketegarannya (dilukiskan melalui ikon “tulang-tulangku”). “menggali-gali” diartikan sebagai mengingat hujan nadiku, mengingat anugerah-anugerah yang telah diberikan Tuhan dalam nadi si penyair (dalam hidup si penyair). //hingga sumsum menyabda pada sajak-sajakku//. “sum-sum” merupakan bagian yang terkecil dari tulang. Jika tadi “tulang” berarti ketegaran, maka “sum-sum” merupakan hal yang menjadi bagian dari yang membuat adanya ketegaran tersebut. “sajak-sajak” di sini memiliki makna konotatif, yaitu ayat-ayat Tuhan. “menyabda” sama artinya dengan mengucap, menyeru ayat-ayat Tuhan sebagai sumber atas segala ketabahan hidup.
Dari keseluruhan diksi yang digunakan penyair pada bait ke-dua, dapat ditangkap makna yaitu ungkapan penyair bahwa “yang berdaging pasti nantinya akan mengering” melalui sajak, //dagingku akan mengering//. Secara sadar penyair mengungkapkan bahwa dirinya nantinya akan tiada, tidak berarti dan kembali pada Sang Pencipta. Dalam bait ini, banyak terdapat pengulangan kata “ungu”. Makna ungu di sini menjadi magis, semagis senja, semagis kata yang berhasil merayapi lembah dada. Penyair berkeluh, seharusnya yang mampu ia tangkap lebih dari sekadar kata “mati, kering, dan tiada”. Namun, yang ia tangkap hanyalah “ungu matamu”, yaitu rahasia Tuhan. Sebuah ketentuan tetap menjadi suatu rahasia milik Tuhan, yang “tak henti-hentinya mengedipkan bunga”: membawa kejutan dan rencana-rencana yang idah. Bunga “bugenfil” dipersonifikasikan sebagai lambang kasih. Maka, rencana-rencana Tuhan merupakan lambang kasih (yang kehadirannya tetap suatu rahasia) yang membuat kenyataan yang senyata-nyatanya dalam hidup penyair pun menjadi sebuah rahasia, seperti rahasia rencana-rencana Tuhan: yang membuat tanganku pun menjadi ungu, seungu suaraku, seungu matamu.
Tiga bait puisi ini, kemudian maknanya diperjelas pada bait terakhir atau ke-tiga, berada pada baris terakhir. Bait tersebut berbunyi, /maka dengarlah bisik doaku pada daun jendelamu, yang selalu/ kuketuk dengan tulang-tulang tangisku//. Sajak tersebut menggambarkan sebuah komunikasi. Penyair melakukan komunikasi kepada Tuhan melalui doa yang melukiskan penghambaan yang utuh kepada Tuhan.

C.    Simpulan
Dalam puisinya, Jamal D Rahman banyak menggunakan ikon indeks simbol seperti, ruas jemari, tulang-tulangku, nadiku, sum-sum, dagingku, suaraku, dan air mataku, yang semua itu merupakan organ-organ dalam diri manusia. Organ-organ tersebut bukan merupakan makna denotatif, melainkan sebuah simbol yang merupakan tanda. Seperti halnya ayat atau tanda dari Allah tidak hanya berupa kata-kata dalam Al-quran. Allah juga mengajari manusia melalui tanda-tanda-Nya yang lain, yaitu ayat-ayat kauniah seperti pohon, sungai, udara, dan ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Bahkan, dalam diri manusia pun terdapat tanda.
Berdasarkan pengamatan, hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Jamal D Rahman menggunakan ikon-ikon berupa organ yang ada pada diri manusia untuk memaknai sebuah tanda. Tanda yang secara tidak langsung menyabda pada organ terkecil manusia untuk tetap setia mensyukuri sebuah fakta penciptaan. Dengan demikian, diharapkan adanya kesadaran tentang tanda atau menyadari dirinya sebagai makhluk yang hidup dari, oleh, dan untuk “Tanda”.


DAFTAR PUSTAKA
Hendrawati, Lianny. 2008. Pelangi: Makna Waktu. Diakses dari http://liannyhendrawati.blogdetik.com, pada tanggal 10 April 2012.
Kutha Ratna, Nyoman. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rukmana, Rahmat. 1995. Bugenfil. Yogyakarta: KANISIUS (Anggota IKAPI).

Rusli, Salim. 2011. Tafsir Al-’Alaq: Qalam, Tanda, dan Semiotika. Diakses dari http://www.salmanitb.com, pada tanggal 11 April 2012.

Rusmana, Dadan. 2005. Tokoh dan Pemikiran Semiotik. Tazkiya Press.
Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Suroso, dkk. 2009. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: ELMATERAPUBLISHING.
Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: PUSTAKA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar